Apakah Bijak Untuk Melakukan Cicilan?


Semua orang percaya, diri mereka bijak dalam jalannya sendiri. Tapi tidak jarang banyak orang justru menilai bahwa orang lain tidak lebih bijak daripada dirinya sendiri. Mengapa demikian? Secara harfiah, bijak berarti selalu menggunakan akal budinya. Umumnya, seseorang yang bijak biasa ditandai dengan ketahananan atau kontrol akan emosinya yang berada di atas rata-rata. Dengan menanggalkan emosi berlebihan seperti ini, seorang yang bijak akan mampu melihat dunia sekitarnya secara lebih jernih dan menyeluruh. Tentu dalam kasus finansial, bijak atau tidaknya pengambilan keputusan, dapat diukur dengan bertolak pada kacamata perhitungan dan pertimbangan yang diakhiri dengan sebuah keputusan.


Terkhusus untuk cicilan, mungkin sudah terlalu banyak informasi simpang siur yang sudah mengaduk-aduk pemahaman kita. Dari satu sumber, cicilan dicanangkan menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan yang sudah sangat umum dilakukan. Tapi dari sumber lain, ada yang sangat keras menentang metode cicilan dengan berbagai alasan, mulai praksis secara finansial, sampai dalil agama yang mengharamkan. Maka dari itu, Sahabat Keuangan akan mencoba memberikan gambaran bagaimana idealnya memandang cicilan.


Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, karena cicilan merupakan satu metode yang berhubungan langsung dengan urusan keuangan / finansial, maka tentu hal yang paling mendasar untuk mengambil keputusan adalah mengedepankan perhitungan. Sebelum melakukan perhitungan semacam ini, alangkah baiknya untuk memeriksa kembali bagaimana penghasilan / pendapatan yang sudah diperoleh selama ini dan proyeksinya ke depan. Bandingkan dengan pengeluaran yang sudah dikeluarkan dan yang kemungkinan akan dikeluarkan. Perbandingan antara penghasilan dan pengeluaran harus berada di rasio dimana pendapatan berbanding lebih besar daripada pengeluaran, atau dengan kata lain cash flow lancar dan bernilai positif. Jika tidak, urungkan segala niat untuk melakukan cicilan dan coba mundur satu langkah untuk mengalokasikan ulang segala pengeluaran yang ada serasional mungkin. Ingat, bijak juga berarti dapat mengontrol emosi dan mengedepankan akal budi untuk menghasilkan keputusan yang baik.


Setelah dipastikan bahwa cash flow yang ada ialah lancar dan positif, maka tahap selanjutnya adalah soal dana darurat. Meskipun sudah umum, namun dana darurat acap kali luput dari pandangan dan cenderung dilupakan. Padahal, setiap orang beresiko untuk mengalami satu musibah yang tentu saja tidak diinginkan, dan dana darurat berperan untuk meminimalisir atau menanggulangi segala resiko yang tidak bisa diprediksi ini. Sebelum melakukan cicilan, ada baiknya untuk memprioritaskan memenuhi dana darurat terlebih dahulu. Nominal dan metode alokasinya dapat ditemukan dalam judul lain pada artikel Sahabat Keuangan lainnya. Karena rasanya tidak setimpal, apabila sudah terlanjur melakukan cicilan namun kemudian harus ditanggalkan ditengah jalan akibat perhitungan resiko yang tidak matang.


Namun, jika cash flow jelas lancar dan positif, kemudian dana darurat juga sudah tertimbun dan sesuai dengan standar yang umum. Pertimbangkan instrumen keuangan lain yang lebih produktif seperti berinvestasi atau membeli asuransi. Masih dalam koridor perhitungan, tidak bisa dipungkiri bahwa tendensi atau kecenderungan metode mencicil adalah rasio nilai barang (yang bersifat konsumtif) cenderung menyusut dalam jangka waktu tertentu. Namun harga yang dibayarkan justru tetap, dan terlepas besar atau kecil nominalnya, pasti akan lebih besar dari harga aslinya. Dengan kata lain, nilai uang menjadi tidak produktif dan mengkhianati cash flow positif yang sudah dicapai sebelumnya. Sebaliknya, dalam instrumen lain seperti investasi, nilai dari uang justru meningkat seiring waktu. Maka dari itu, sebaiknya sebelum melakukan cicilan, lebih baik adanya untuk memprioritaskan mengalokasikan dana ke dalam instrumen investasi.

Tetapi setelah semua pertimbangan mulai dari cash flow yang lancar dan positif, dana darurat yang sudah tersedia dan siap digunakan kapan saja, bahkan sudah mempunyai alokasi dana untuk berinvestasi, maka sedikit banyak tahapan Financial Freedom sudah tercapai. Seperti yang kita ketahui, bahwa setelah memperoleh kemerdekaan saja, seseorang dapat mengekspresikan diri seutuhnya. Namun tentu, kebebasan yang ada bukan jadi alasan untuk larut dan meninggalkan segala bentuk idealisme yang sudah dicapai sebelumnya. Sama halnya dengan scoop keuangan, mencicil juga tetap harus dibatasi, namun bedanya, pembatasan tersebut dilakukan secara sadar berdasarkan perhitungan yang matang. Disitulah saat seseorang dikatakan bijak dalam melakukan cicilan.


Tentu karena pembatasan dalam mengalokasikan dana untuk melakukan cicilan cenderung sangat subjektif, dan dengan tersedianya program cicilan yang sangat beragam, maka gambaran umum yang bisa diberikan oleh Sahabat Keuangan berada di angka 30% (tiga puluh persen) dari total penghasilan bulanan. Perlu dicatat bahwa angka ini merupakan ambang batas maksimal, terlepas dari produk yang dicicil adalah bersifat konsumtif maupun produktif. Memang terdengar tidak masuk akal karena segala prasyarat yang sedemikian banyak sudah terpenuhi. Belum lagi, jika mengetahui potensi yang bisa dimiliki jika melakukan cicilan lebih daripada 30%.

Tetapi jika melihat dengan lebih jernih, sebenarnya kemampuan untuk mengalokasikan dana lebih dari 30 persen demi mencicil, apabila dialokasikan, dalam kurun waktu tertentu barang yang diincar akan lebih cepat dan lebih tepat jika didapatkan dengan cara menabung. Belum lagi jika mendasarkan pada konsep nilai barang dan uang yang menyusut.

Terakhir, jika memang akhirnya segala prasyarat dan keinginan akhirnya bertemu, jangan lengah dan mencicil pada lembaga keuangan yang abal abal. Setidak-tidaknya, telusuri lembaga keuangan yang sudah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Setelah sudah dipastikan, barulah temukan simulasi cicilan yang tepat dan tentu pertimbangkan dan perhitungkan semuanya secara matang.


#danadarurat #keuangan #cicilan #hutang

 

(Hermanus, Content Writer)

(Hermanus, Cover Designer)

0 views0 comments