Boros, Bukan Cuma Buang Uang



Sebagai sistem ekonomi terbesar dan hampir diterapkan di seluruh dunia, prinsip pasar bebas seakan tidak bisa lepas dari kehidupan kita sebagai masyarakat. Buah yang paling nyata dalam penerapan ideologi ini adalah, masyarakatnya sudah sangat biasa bersaing. Pemandangan berupa perbedaan strata ekonomi juga mewarnai persaingan ini. Namun, nilai keberhasilan / sukses yang menjadi ukuran persaingan ini cenderung berbeda pada masing masing orang. Ada yang menempatkannya pada gaji atau keuangan, Properti, Kemewahan, Pendidikan dan masih banyak lagi. Dengan perbedaan itulah, sistem ekonomi tidak harus mengalami kekacauan.


Uang sebagaimana pun menjadi kunci dalam menyokong seluk beluk kehidupan, sebenarnya kurang adil jika dijadikan ukuran. Apa yang dimiliki semua orang secara serentak sama dimuka bumi ini adalah waktu. Meskipun pasti banyak argumen yang berlalu lalang antara pro dan kontra dalam menanggapi soal ini, entah menyangkut keadilan, kesempatan, bahkan soal keberuntungan yang tidak sama atau senasib antar manusia. Namun kenyataan bahwa tidak ada perbedaan konsep waktu, dimana tidak ada mendapat waktu yang lebih banyak atau lebih sedikit setiap harinya tetap tidak bisa di tepikan.


Maka dari itu cobalah untuk menggeser pemahaman mayoritas kita, yang selalu mengukur segala sesuatu berdasarkan uang. Dengan menggeser fokus kita kepada waktu sebagai pemain utama, maka sebenarnya kesempatan untuk menghargai kehidupan dan menghidupinya akan menjadi lebih jernih.


Waktu = Uang
Boros = Hilang Waktu

Dengan mengganti perspektif kita akan waktu, maka kita pasti memandang uang sebagai satu modal, yang sama dan setara. Gaji dalam bentuk uang, pun akan dikonversikan kedalam satuan waktu. Sebagai contoh sejumlah sepuluh juta Rupiah (Rp 10.000.000), menjadi nominal pendapatan dalam satu bulan. Jika dibagi dalam satuan waktu, misal jam, maka dalam satu jam hidup kita bernilai empat puluh satu ribu Rupiah (Rp 41.000). Artinya biaya makan di warung Tegal (Warteg) sebagai kebutuhan pokok sebanyak tiga kali sehari dapat ditutup dengan satu jam kerja. Sementara dalam urusan yang konsumtif, maka sepatu branded bukan lagi seharga lima juta Rupiah (RP. 5 juta), tetapi senilai seratus dua puluh dua (122) jam kerja. Liburan yang adalah sepuluh juta (10), bernilai dua ratus empat puluh empat jam (244) kerja. Gadget tercanggih di antara perkumpulan-mu, yang adalah milikmu, tidak hanya seharga dua puluh lima (25)juta, tapi setara dengan enam ratus sembilan (609) jam kerja.

Saat satu satunya hal yang setara dalam hidup ini akhirnya terbuang oleh karena pilihan kita, maka akhirnya keberhasilan atau kegagalan tidak lepas dari keputusan. Boros dalam hal ini tidak mungkin berada diluar kendali masing - masing kita sebelum memutuskan untuk melakukannya. Sifat boros, terlepas dari pengaruh sosial, iklan dan aktualisasi diri, adalah manifestasi atau kesadaran kita untuk menuangkan hak kita atas waktu kedalam satu wujud tertentu yang ada dalam proyeksi pun orientasi. Oleh karena banyak yang masih melihat waktu sebagai apa yang dikorbankan, terlalu banyak keluhan tentang singkatnya hidup, bahkan bagi orang yang masih berusia muda.


Karena terbatasnya apa yang bisa penulis utarakan disini, saya menyarankan buat anda pembaca untuk melirik “Filosofi Teras” oleh Henry Manampiring. Dimana buku ini cukup mendapat perhatian belakangan ini dan sempat menjadi national best seller. Salah satu tokoh yang disinggung disitu adalah Lucius Annaeus Seneca, ia adalah salah satu filsuf yang sejak dua ribu tahun yang lalu sudah menengahkan waktu dalam filsafatnya. Sebagai penggugah, Seneca menjelaskan bahwa untuk mengukur baik atau buruk seseorang dalam memanfaatkan waktunya, adalah dengan menanyakan apa pendapatnya tentang kematian. Lebih jauh, kematian akan lebih cepat menghampiri saat terlalu banyak waktu terbuang.


The amount of life we truly live is small. For our existence on Earth is not Life, but merely Time” - Seneca.


#boros #hemat #uang #waktu

 

(Herman, Content Writer)

(Herman, Cover Designer)

6 views0 comments