Cara Menghitung Hasil Financial Check Up



Halo sahabat!

Kamu udah berhasil dapetin hasil Financial Check Up? Hasil perhitungan sendiri atau dibantu dengan konsultan perencana keuangan? Atau lewat sistem aplikasi otomatis? Apapun itu setidaknya kamu sudah berhasil melewati langkah awal sebelum memulai investasi.


Lalu, gimana caranya menilai hasil Financial Check Up kita?

Oke kita mulai ya, cekidoot!


Hasil dari Financial Check Up setidaknya akan menemukan 4 komponen, yaitu Total Aset, Total Portfolio Investasi, Total Hutang, dan Total Pemasukan-Pengeluaran Bulanan. Silahkan baca artikel sebelumnya jika kamu belum menghitung Financial Check Up mu. Kita mulai dari:


1. Pemasukan x Pengeluaran

Seseorang dikatakan sehat secara keuangan jika pemasukan lebih besar dari pengeluaran. Tentu ini udah paham pake banget pasti yah.

Tapi berapa kira-kira perbandingan antara Pemasukan dan Pengeluaran yang baik? Dalam dasar teori keuangan jika perbandingannya adlaah 1:1 maka seseorang sudah dikatakan cukup sehat. 1:1 artinya pemasukan kita = pengeluaran kita, contohnya kita punya pemasukan dari gaji sebulan Rp 10Jt, lalu kebutuhan bulanan kita juga Rp 10Jt.

Tapi karena kita lagi ngomongin tentang perencanaan investasi, jadi sebaiknya rasionya adalah 2:1. Artinya pengeluaran kita hanya memakai 50% dari pemasukan. Jadi masih ada sisa 50% dana.

Rasio Pemasukan x Pengeluaran yang baik untuk persiapan investasi adalah 2:1

2. Pendapatan x Hutang (Cicilan)

Hutang ini sebenarnya dibagi menjadi 2, yaitu hutang konsumtif dan hutang produktif. Hutang konsumtif adalah hutang yang digunakan hanya untuk memenuhi hasrat ingin memiliki, tidak ada tujuan untuk bisnis atau kegiatan produktif lainnya. Misal beli handphone keluaran terbaru dengan spesifikasi yang selangit, tetapi saat penggunaannya hanya digunakan untuk telpon dan chattingan dengan gebetan, ga produktif banget kan tuh.

Satu lagi hutang produktif, adalah hutang yang digunakan untuk mendukung pekerjaan atau berpotensi mendapatkan penghasilan tambahan dari hutang tersebut. Contohnya, beli make up branded yang limited edition. Selama itu digunakan untuk menunjang pekerjaan, misal sebagai seniman badut, untuk mendandani wajahnya, ya boleh-boleh saja kan :D

Oke, kembali ke rasio. Jika kita ingin mulai berinvestasi, maka sebaiknya rasio hutang konsumtif kita adalah 0%, artinya kita sama sekali tidak memiliki hutang atau cicilan konsumtif.


Lalu untuk rasio hutang produktif jika dibandingkan dengan pendapatan sebaiknya tidak lebih dari 30%. Artinya jika kita punya penghasilan bulanan Rp 10Jt maka maksimal hutang / cicilan produktif yang sehat sebesar Rp3Jt per bulan.


Rasio Hutang Konsumtif = 0%
Rasio Hutang Produktif maksimal 30% dari Pendapatan

3. Aset x Total Hutang

Total hutang yang dimaksud ini adalah jumlah semua hutang, seperti KPA, KTA, KPR, Leasing, dll yang sudah dihitung berdasarkan Financial Check Up.

Rasio yang sehat antara Aset dan Total Hutang adalah minimal 1:1, artinya jika semua aset kita dijual, mulai dari rumah, kendaraan, sertifikat-sertifikat kepemilikan, dll hasilnya bisa PAS melunasi total hutang tersebut. Kalau bisa ada sisanya itu berarti lebih sehat lagi.

Rasio Aset x Total Hutang = 1:1

Nah, sampai di sini sebelum kita lanjut ke poin 4 sudah bisa sedikit disimpulkan bahwa kita bisa memulai berinvestasi dengan sisa dana yang ada. Berapa sisa dananya?

Kalau kita mengikuti rasio-rasio di atas, pengeluaran kita 50% dari pendapatan, cicilan konsumtif kita 0%, cicilan produktif kita 30%, dan total asset kita sanggup untuk melunasi total hutang kita, artinya kita masih punya dana 20% dari pendapatan bulanan kita. (100-50-0-30)% = 20%. Jadi kalau pendapatan bulanan kita adalah Rp 10Jt maka kita punya dana Rp 2Jt setiap bulan untuk dapat diinvestasikan.

Rp 2Jt ini sudah bisa kita investasikan dibeberapa instrumen investasi seperti, Saham atau Reksadana Pasar Uang, atau yang lainnya.


4. Portfolio Investasi

Dipoin ini diperuntukan bagi kita yang sudah memiliki beberapa portfolio investasi, seperti saham, deposito, reksada, property, dll. Jika kita sudah memiliki 1 atau beberapa dari instrument tersebut dan sudah menghasilkan keuntungan rutin tentu akan sangat membantu kita dalam membuka keran investasi yang baru. Misal, kita memiliki 1 unit apartemen dengan cicilan bulanan 3jt. Apartemen tersebut kita sewakan dengan biaya sewa sebesar Rp 3,5jt. Artinya kita dapat keuntungan bersih sebesar Rp 500ribu. Dana ini bisa kita tambahkan ke alokasi investasi kita yang baru nanti.

Sebenarnya tidak hanya bertambah Rp 500ribu. Kita lihat sampai di poin ke 3 tadi. Kita memiliki cicilan produktif setiap bulan sebesar 30% dari pendapatan yaitu Rp 3Jt. Artinya kita juga terbebas dari cicilan tersebut karena sudah dibayarkan oleh si penyewa apartemen kita. Jadi kita hemat Rp 3Jt + Rp 500ribu (net profit biaya sewa apartemen). Dan Total sisa dana yang kita miliki tadi untuk berinvestasi sebesar Rp 2jt + Rp 3Jt + Rp 500ribu = Rp 5,5Jt.

5. Dana Darurat / Asuransi

Nah poin terakhir ini cukup penting untuk memberikan kenyamanan kita dalam berinvestasi atau menjalankan perencanaan keuangan kita. Kita tidak akan pernah bisa memprediksi kapan akan terjadi musibah, jadi penting untuk kita berjaga-jaga.

Jika kita adalah seorang kepala rumah tangga dengan konsep KB (2 anak cukup), siapkanlah dana darurat sebanyak 6-12 kali dari pengeluaran rutin bulanan kita. Atau kalau kita masih lajang / single, cukup 3-6 kali dari pengeluaran rutin bulanan. Simpan dana ini di tempat / instrumen yang mudah dicairkan, misal berupa emas batangan. Agar sewaktu-waktu dalam keadaan darurat bisa segera kita dapatkan uang tersebut.

Dana Darurat untuk Kepala Keluarga = 6-12x Lipat dari Pengeluaran Bulanan
Dana Darurat untuk Lajang/Single = 3-6X Lipat dari Pengeluaran Bulanan

Atau bisa juga kita mengambil salah 1 produk asuransi. Pastikan produk asuransi yang dipilih ini sesuai dengan kebutuhan kita dan sanggup melindungi keuangan kita jika terjadi hal-hal yang diluar dugaan, misal sakit berkepanjangan, cacat, atau bahkan meninggal. Jika kita memiliki produk asuransi yang tepat sesuai dengan perencanaan keuangan kita, maka ketika seorang kepala keluarga meninggal, keluarga yang ditinggalkannya tetap dapat hidup dengan layak, tanpa terganggu masalah keuangan.


Nah, kalau kita menggunakan asuransi artinya ada biaya premi yang harus kita bayarkan setiap bulannya, dan ini akan mengurangi besarnya dana yang akan digunakan untuk investasi tadi. Tapi, demi kenyaman kita dalam memujudkan tujuan keuangan kita, tentu tidak ada salahnya kita membeli produk asuransi.


Berapa besar biaya asuransi yang dapat kita bayarkan sesuai dengan kondisi keuangan kita?

Jawabannya adalah kembali lagi disesuaikan dengan kebutuhan produk asuransi yang tepat. Tapi disarankan dana untuk asuransi ini tidak lebih dari 20% pendapatan bulanan kita. Ingetkan sampai di poin 3 tadi dengan asumsi kita tidak memiliki portfolio investasi, maka dana yang tersisa adalah 20% dari pendapatan. Artinya kalau premi asuransi saja sudah 20%, habis sudah dana kita, tidak ada yang bisa diinvestasikan. Huhuhu.

Jadi usahakan kita dapat produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan dan dengan biaya yang sesuai dengan perencanaan keuangan kita.


Naaah, begitulah kira-kira Cara menilai hasil dari Financial Check Up kita secara sederhana, tanpa teori-teori yang ngejelimet. Hahahaha.

Gampang kan? Ga perlu bayar mahal-mahal ke konsultan keuangan kan? Mending duitnya buat tambah-tambahin investasi. 😊


Jadi, gimana hasilnya? Memuaskan? Mengejutkan? Mengecewakan? Apapun itu jangan lupa bersyukur yaah.


Sampai ketemu ditulisan selanjutnya sahabat!


Cheers!


#Investasi #Keuangan #Impian

2 views0 comments