Investasi Harus Dalam Jumlah Besar ?


Seperti yang sudah disinggung dalam beberapa artikel sebelumnya, investasi adalah salah satu instrumen keuangan yang esensinya adalah untuk mencapai suatu tujuan keuangan tertentu. Meskipun kata investasi sudah umum pada masa sekarang ini, tidak dapat dipungkiri bahwa popularitasnya secara esensial masih cukup minim dalam pengertiannya. Dan sebenarnya hal tersebutlah yang menjadi alasan kenapa pertanyaan seperti judul tidak jarang kita temukan, Apakah investasi harus dalam jumlah besar?


Per Juni 2021 media massa berbondong bondong menyiarkan bahwa jumlah investor SID (single investor identification) di Indonesia meningkat sampai angka 5 juta. Namun faktanya angka tersebut masih sangat rendah karena hanya berada dibawah 5 % dari jumlah penduduk Indonesia pada usia produktif. Hal ini akan begitu terasa ketika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura (26%) atau Malaysia (9%) apalagi negara adidaya seperti Amerika Serikat dengan rasio 55% dari jumlah penduduknya.


Tidak begitu berbeda dengan instrumen keuangan lainnya, terpuruknya rasio investor di Indonesia memiliki latar belakang yang tidak terlalu berbeda, minimnya literasi. Literasi keuangan seperti investasi, sebenarnya tidak lebih baik dibanding keberadaan asuransi seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Stigma negatif terhadap investasi seperti “tidak terjamin” seringkali menjadi acuan utama untuk mengisolasi diri dari investasi. Padahal, keberadaan lembaga negara seperti OJK (Otoritas Jasa Keuangan) hadir untuk menjamin masyarakat umum dan memberikan perlindungan secara hukum.


Oleh karena sikap isolasi diri pada masyarakat, esensi untuk mencapai satu tujuan keuangan tertentu terkadang hanya terbatas pada instrumen berupa tabungan ataupun deposito. Padahal dengan target yang terperinci dan kalkulasi yang tepat, esensi tersebut bisa diperoleh dengan lebih efektif dan efisien (cepat) dengan menggunakan instrumen investasi. Hal ini tentu melihat bagaimana potensi perubahan nilai positif / keuntungan yang lebih besar dalam instrumen investasi dibanding dengan menabung maupun deposito.


Lalu, jika investasi menjadi lebih merupakan bentuk “menabung” yang lebih efektif, apakah pertanyaan di judul masih relevan ?


Tentu tidak !


Sama halnya dengan menabung, keberhasilan memenuhi target ialah konsistensi dalam melakukan kegiatan investasi. Perlu ada penjadwalan rutin dalam jangka waktu tertentu supaya nilai investasi secara berkala semakin menguntungkan dan memenuhi target. Sama halnya dengan tabungan, ketidak teraturan akan memperlambat peningkatan jumlah uang dan berujung kepada kandasnya sebuah target. Pemberian jadwall yang ketat dan konsisten tidak serta merta berarti menyita sebagaian besar waktu yang ada. Sama seperti menabung, rutinitas investasi dapat dilakukan secara ideal setiap pendapatan atau penerimaan bulanan (gaji) jatuh tempo.


Terkait jumlah, tentu akan sangat subjektif dan berdasarkan kemampuan masing masing individu. Terlebih untuk angka pastinya juga harus menyesuaikan dengan target yang ingin dicapai. Namun sebagai acuan, angka yang bisa dijadikan standar minimum ialah sekitar sepuluh persen (10%) dari jumlah pendapatan.

Namun, kembali kepada tujuan dan tenggat waktu, rasio minimum akan sangat fleksibel untuk di kalkulasikan. Inilah yang membuat esensi daripada investasi bukan terletak di besar atau kecilnya nominal.

Agar lebih efektif, rutinitas dalam melakukan investasi dijalankan dengan diiringi peninjauan hasil / keuntungan selama berinvestasi. Tapi tentu saja, intensitas review tidak sesering memasukan uang, lakukan peninjauan setiap 3, 6 atau bahkan 1 tahun satu kali. Menabung akan terasa lebih lambat jika lebih sering dihitung daripada dihimpun. Jadi, buang jauh-jauh stigma buruk tentang investasi. Jika sudah memiliki target keuangan, jangan ragu untuk mencari tau dan mulai berinvestasi. Dalam investasi, kemarin lebih baik dari hari ini!


#investasi #cuan #keuangan #profit

 

(Hermanus, Content Writer)


(Ezra, Cover Designer)

5 views0 comments