Tips Ngadepin ‘Doi” yang Boros


Jalaludin Rumi, sebagai salah satu Sufi besar yang sangat memahami percintaan pernah berkata “pada akhirnya para pecinta tidak bertemu di satu tempat”. mendengar tuduhan Rumi barangkali hati seakan bergejolak, menolak bahwa pecinta dituduh keberatan meskipun secara rasional memang demikian. Jika ada pengorbanan dalam mencinta, cinta itu seakan tidak lagi tulus dan ternoda oleh gratifikasi untung dan rugi. “Demi cintamu, apapun akan kuberikan”, begitulah ambisi seorang pecinta yang tengah berlabuh setelah sekian lama mengarungi samudera kehidupan seorang diri.


Namun seiring berjalannya waktu, rasa cinta memang tidak tereduksi, tapi peringatan yang memberatkan, semakin nyaring bunyinya. Tiap merogoh kocek, rasa dag-dig-dug seakan menjalar ke seluruh bagian tubuh. Daya tahan dompet dimasa yang akan datang, menjadi hantu yang membayangi setiap hari. Cinta tidak lagi menjadi manis.


Meskipun tidak melulu masalah percintaan adalah borosnya pasangan atau soal keuangan, tidak bisa dipungkiri, suara mayoritas usia dewasa muda dengan pasangannya pasti pernah bergumul karena masalah ini. Tidak jarang, saat pertama kali menyatakan cinta, mendedikasikan seluruh hidup bukanlah sebuah masalah untuk dilakukan. Apalagi hanya sekedar memenuhi permintaan, kecil. Hal ini sering terjadi karena pada masa yang singkat itu, sebagian besar kapasitas otak orang muda dibanjiri oleh dopamin dan membuatnya lupa akan tanggung jawabnya yang lain di dunia ini.


Karena masalah ini menjadi sedemikian umum dikalangan anak muda, maka Sahabat Keuangan akan mencoba membantu, supaya si -doi bisa menjadi lebih baik dan tidak sampai kena kritik, apalagi kandas hanya karena salah paham. Harapannya, keraguan akan cinta dapat berbalik bahkan menjadi lebih manis dari yang pernah ada..


Sebagaimana bunuh diri, berkata tidak dan menolak permintaan doi, seakan menjadi momok untuk diucapkan kepada pasangan, tidak terkecuali saat kita tau persis bahwa permintaanya berarti pemborosan. Tentu saja hal ini tidak sehat sama sekali, baik dari sisi hubungan apalagi keuangan. Memang sangat wajar adanya saat perasaan untuk mengabulkan setiap permintaan pasangan dan menjadikannya prioritas. Alasan utamanya ‘demi menjaga harmoni dan kelanggengan’. Sadarilah, sebenarnya menolak permintaan dengan satu alasan yang tepat justru akan memperoleh rasa segan yang positif (respect). Penolakan yang seperti ini akan membangun citra kepemimpinan, yang memperhitungkan dan menatap hari depan. Tetapi, jika doi justru berbanding terbalik dan justru mencaci karena ini, sangat perlu untuk menelisik, sungguhkah kepadamu, cinta yang ada di hatinya?


Tentu untuk menyampaikan penolakan kepada pasangan tidak semata mata menjadi alasan untuk menjadi tangan besi dan membangun jarak. Justru sebaliknya, sebelum menolak permintaan pasangan yang cenderung boros, bangun sebuah jalinan komunikasi yang hangat. Karena masalah keuangan bukanlah satu hal yang sepele atau bahkan cenderung sensitif, pastikan keadaan emosi satu-sama lain stabil, sehingga tercipta rasa nyaman. Dari rasa nyaman tersebut, barulah mungkin untuk memberikan teguran yang ringan namun serius untuk mengingatkan bahwa ada aspek yang membuat keuangan terkesan boros dan kurang bermanfaat, namun jangan menyalahkan. Ingat pemborosan tidak akan terjadi karena kesalahan satu pihak.


Adalah tidak mungkin untuk membahas urusan keuangan tanpa melakukan perhitungan. Maka secara terbuka, ajaklah pasangan untuk membahas alokasi keuangan selama satu atau dua bulan kebelakang.

Dari perhitungan tersebut, akan mudah menggambarkan bentuk pemborosan yang sudah dilakukan. Setelah pola pemborosan mulai terlihat dengan jelas, ingat terus bahwa tujuan utamanya adalah membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik. Maka gambarkan bagaimana seandainya segala bentuk pemborosan yang sudah dilakukan dialokasikan untuk sesuatu yang lebih baik (bermanfaat), sehingga pasangan memiliki persepsi yang serasi.

Sebagai pemantik, berikan bagaimana proyeksi akan tujuan keuangan yang menjadi prioritas untuk membahagiakan pasangan. Misal mengalokasikan ulang anggaran yang sebelumnya diboroskan, kepada tujuan yang lebih maksimal seperti, me-renovasi tempat tinggal atau berlibur bersama. Dengan menunjukan betapa pasangan adalah prioritas sesungguhnya, maka pasangan pun tidak akan segan untuk merubah pola hidup borosnya dan bahkan akan lebih menghargai apa yang pasangannya lakukan atau kerjakan. Dengan sendirinya, pasangan satu-sama lain akan sama sama berusaha untuk cenderung mengutamakan untuk mencapai satu tujuan bersama.


Bukan tanpa tantangan, meskipun satu tujuan mempermudah pengaturan keuangan, era digital sekarang ini terlampau canggih untuk membuat tujuan keuangan tertunda. Berbagai penawaran menggiurkan yang rutin dipaparkan, sangat memungkinkan khalayaknya terlena dan kembali jatuh ke dalam konsumerisme. Hindarilah godaan semacam ini dengan membuat jarak dengan aplikasi online shop dan notifikasi-nya, bisa dengan memblokir notifikasi (dan belanja hanya ketika perlu) atau lakukan langkah ekstrim seperti mencopot pemasangan aplikasi hingga kontrol diri sudah kembali sepenuhnya. Disisi lain, menyimpan uang cash terlalu banyak, dengan segala kecenderungan untuk segera menghabiskannya, juga perlu dihindari. Pemborosan dimulai dari akses terhadap uang yang mudah.


Sebagai penutup, jangan pernah lengah hingga tidak memberikan apresiasi terhadap perjuangan satu sama lain. Menyepelekan progress yang besar, hebat dan signifikan, dimulai dari meremehkan pencapaian - pencapaian yang kecil. Sebagai bentuk apresiasi, tidak ada ruginya memberikan pujian kepada pasangan. Malah, akan sangat mungkin dari pujian sebagai ungkapan cinta, berbuah kepada motivasi untuk menembus batas (yang sebelumnya) maksimal dalam mencapai tujuan bersama. Kuncinya, komunikasikan segala uneg - uneg kepada pasangan. Dalam hal keuangan, pasangan tidak akan mengutuk hanya karena diingatkan. Sikap dewasa seperti ini tidak akan mengecewakan, bahkan mengembalikan rasa manis cinta yang sebelumnya pudar dan membantah apa kata Rumi, setidaknya di bagian keuangan.


#pandemi #keuangan #cinta #pasangan

 

(Hermanus, Content Writer)

(Hermanus, Cover Designer)

1 view0 comments